Desain Bangunan (Rumah Tinggal) Ramah Lingkungan : Belajar dari Pengalaman Para Arsitek
Desain bangunan ramah lingkungan tersebut diwujudkan dalam konsep Bangunan Gedung Hijau (BGH), yang sudah mulai diterapkan di Indonesia sejak tahun 2010 lalu. Peluang untuk menerapkan BGH sangat besar karena biaya untuk memenuhi target pengurangan emisi karbon bangunan lebih murah dari biaya untuk upaya yang sama pada sektor lain seperti transportasi dan industri karena teknologi sudah tersedia.
Pengurangan emisi karbon selama ini hanya melihat bangunan gedung untuk kantor, fasilitas umum seperti pusat perbelanjaan, sekolah, rumah sakit. Namun sesungguhnya bangunan rumah tinggal juga menyimpan potensi emisi karbon yang besar jika tidak ditangani dengan baik. Menurut Kementerian PUPR, kebutuhan rumah di Indonesia cukup tinggi, dengan jumlah penduduk yang terus bertambah dan ada sekitar 93,1 juta keluarga dengan jumlah backlog (kebutuhan rumah yang belum terpenuhi) mencapai 15 juta unit pada 2024. Kemudian ada 26 juta unit rumah tidak layak huni, sehingga ada 41 juta rumah yang harus ditangani. Sementara jumlah rumah yang tersedia saat ini sekitar 51 juta unit rumah, jika diasumsikan 50 persen merupakan rumah yang tidak ramah lingkungan (penggunaan energi yang boros), memberikan dampak besar terhadap emisi gas karbon di lingkungan. Sehingga rumah tinggal perlu menjadi target utama dalam mengurangi emisi karbon melalui desain bangunan yang hemat energi baik di perkotaan maupun di desa.
Peran arsitek menjadi penting dan strategis untuk menghasilkan rancangan desain bangunan (rumah tinggal) yang layak huni dan ramah lingkungan. Beberapa upaya yang sering dilakukan arsitek untuk tujuan ini antara lain orientasi bangunan pada tapak, olahan desain fasad (baik bangunan rendah dan bangunan tinggi) dan penerapan desain pasif melalui penghawaan dan pencahayaan alami. Berdasarkan data penggunaan energi pada bangunan, sekitar 60 persen energi dipakai untuk penggunaan AC. Pada kondisi tertentu, kombinasi desain pasif dan aktif sangat membantu terpenuhnya aspek kenyamanan dan kesehatan bangunan
Namun sering kali kondisi tapak yang ditangani tidak ideal untuk optimal menggunakan berbagai pendekatan standar di atas. Dibutuhkan jam terbang, keahlian atau praktek lapangan yang terus menerus dari arsitek untuk mengatasi tantangan dalam menerapkan konsep BGH pada rancangan bangunan dengan kondisi dan potensi tapak yang beragam dan tidak sering kali tidak ideal. Arsitek harus terus belajar, belajar dari pengalamannya merancang, termasuk belajar dari pengalaman arsitek lain yang sudah lama berkiprah mendesain bangunan dan atau lingkungan binaan yang ramah lingkungan dan dapat memenuhi kinerja BGH. Paling tidak berbagai pendekatan, kreativitas dan inovasi yang sudah dilakukan para arsitek tersebut, telah terbukti berkontribusi langsung bagi pengguna dan masyarakat serta diapresiasi dengan berbagai penghargaan sebagai tanda pengakuan keberhasilan rancangan arsitektur yang dihasilkannya.
Menurut pendapat penulis, ada beberapa arsitek yang bisa menjadi role model dan menjadi sumber inspirasi yang akan dibahas dalam tulisan ini. Para arsitek tersebut adalah Eko Prawoto (alm), Yu Sing dan Andy Rachman. Mereka sudah terkenal dengan karya rumah tinggal layak huni dan ramah lingkungan yang menjangkau semua lapisan masyarakat khususnya kepedulian menghasilkan desain rumah tinggal bagi masyarakat miskin.
1. Eko Prawoto
Kita mengenal Eko Prawoto sebagai salah satu arsitek top Indonesia yang dikenal dengan pendekatan rancangan yang kontekstual, organik, dan humanis. Sebagai arsitek sekaligus seniman, beliau meyakini dengan adanya kecerdasan dan kreativitas tinggi serta keberanian untuk menciptakan sesuatu yang sederhana merupakan wujud dari sikap kematangan, keutuhan dan harmoni dengan alam. Ciri khas rancangan beliau antara lain:
- Membangun hunian hijau yang berbahan alam (bambu, batu, kayu), Berupaya mencari lokalitas nusantara dengan menggunakan sebanyak mungkin material yang disediakan di alam. Pendekatan ini mengurangi ketergantungan material impor atau pabrikan yang butuh energi besar untuk lini produksinya dan transportasi ke lokasi proyek.
- Rancangan juga menggunakan material daur ulang dari material yang sudah dipakai, seperti kusen dan pintu bekas, batu belah.
- Belajar di alam dengan hidup selaras di alam agar lokalitas nusantara dari karyanya dapat diwujudkan termasuk tinggal di desa dan menyatu dengan masyarakat setempat saat merancang karya-karyanya.
- Fokus membantu dan melayani masyarakat di desa yang memiliki keterbatasan akses material dan tukang-tukang terampil. Elemen utama adalah nilai kebersamaan sebagai bagian dari budaya agraris masyarakat desa.
Kontekstual dalam merespon kondisi spasial lokasi dilakukan dengan sedapat mungkin tidak menebang pohon dan tidak mengubah kontur. Massa bangunan tersebar dan naik turun mengikuti ketersediaan lahan, desainnya pun sering kali tampak tidak terencana. Program ruangnya berkembang secara organik mengikuti pertumbuhan kebutuhan, dari hunian, tempat pertemuan untuk menyambut tamu, musyawarah, atau perkuliahan, hingga guest house dan museum. Salah satu contoh karyanya adalah sebuah rumah tinggal yang sekaligus sebagai tempat usaha (cafe) di Bantul Jogyakarta.

Rumah dan Cafe JiwaJawi Bantul Jogyakarta karya Eko Prawoto (alm). Sumber : youtube/ Proactive media
2. Yu Sing
Yu Sing terkenal sebagai arsitek rumah murah sejak 2008 karena sering membantu membangun rumah di bawah Rp 200 – 300 juta dan telah menerbitkan buku : Mimpi Rumah Murah tahun 2009. Menurut pendiri Studio Akanoma ini, rumah sebagai tempat tinggal, berlindung, beristirahat, dan berkumpul dengan keluarga, tidak mengenal status sosial. Keterbatasan anggaran tidak boleh membatasi seni dan kreativitas. Peran arsitek sebagai tenaga ahli profesional harus mampu memberikan solusi dan memberi sentuhan arsitektural dalam mengatasi berbagai masalah desain, termasuk keterbatasan anggaran. Dan yang penting menurutnya : Masyarakat miskin juga butuh arsitek. Yu Sing bersama tim arsitek studionya saat ini mengembangkan riset mock up rumah mikro sebagai salah satu solusi hunian terjangkau di kota yang padat.
Beberapa prinsip dan pendekatannya dalam desain rumah tinggal ramah lingkungan antara lain:
- Praktek bangunan hijau juga harus menjangkau rumah untuk kaum miskin yang paling berdampak besar. Rumah murah dengan prinsip ramah lingkungan yang sesuai dengan konteks lingkungan dan meminimalkan penggunaan energi seperti AC dan penerangan buatan.
- Integrasi antara ruang luar dan ruang dalam karena rumah tidak hanya menjadi rumah kita namun menjadi ruang alam.
- Menanam pohon sebanyak mungkin. Setiap unit rumah punya halaman dengan tanaman pohon akan menyumbang hutan kawasan dalam skala lingkungan kota yang lebih luas baik sebagai paru-paru kawasan perumahan maupun skala lingkungan kota.
- Penerapan desain pasif melalui orientasi bangunan, bukaan dikurangi untuk sisi Timur dan Barat, dan tanpa menggunakan teknologi lain.
- Bangunan panggung, sehingga bagian bawah menjadi tempat usaha, gudang atau daerah resapan.
- Mereduksi ruang dalam dan memperluas ruang luar. Ruang luar untuk aktivitas sehari-hari , kerja dan ruang bersama / komunitas tetangga. Ruang dalam lebih ke area privat seperti untuk tidur dan kamar mandi.

Mock Up Rumah Mikro 2,5 x 3,5 ( Rp 125 juta). Sumber : you tube/arsitag/ Quick Construction & Budget-Friendly Micro House
3. Andy Rahman
Arsitek Andy Rahman merupakan salah satu arsitek yang fokus dengan penggunaan material lokal yang dikombinasikan dengan desain yang modern dan futuristik. Beliau sangat identik dengan penggunaan bata untuk menciptakan nuansa lokal yang kuat. Meskipun ada material lain yang dipakai seperti beton, bambu, kayu dan besi, namun material bata yang paling dieksplorasi untuk menampilkan kesan nusantara dan ketukangan dalam karyanya. Bata dipilih karena memiliki karakteristik yang unik dan dapat dikembangkan dalam arsitektur kontemporer.
Pendekatan desain yang dipakai sangat sederhana dan mendasar, namun relevan dengan isu – isu yang ditawarkan untuk bangunan ramah lingkungan.
- Penggunaan material lokal
Penggunaan material lokal di samping untuk dapat diperoleh dari lokasi sekitar sehingga tidak membutuhkan biaya transportasi yang tinggi juga berkaitan dengan aspek tektonika bangunan yaitu kejujuran aspek struktural dan keindahan bangunan. Untuk itu, beliau tidak segan-segan untuk melakukan riset penggunaan material lokal sebelum diaplikasikan dalam rancangan bangunan.
- Ketukangan dan penghargaan terhadap pengrajin lokal.
Ikut terlibat untuk melatih dan meningkatkan ketrampilan tukang agar agar tukang tetap dapat bertahan hidup, tradisi lokal tidak hilang. Terlibat aktif dalam kegiatan sosial, sehingga profesi arsitek tidak berjarak dengan masyarakat
- Alami.
Sangat memerhatikan pencahayaan, sirkulasi udara, dan kenyamanan penghuni, dengan menghadirkan kesan alami pada bangunan, maka penghuni dapat menikmati udara segar dan hangatnya cahaya matahari meski di dalam ruangan.
Terkait dengan riset material lokal, Andy Rahman terlibat dalam pengembangan material batu bata untuk bangunan ramah lingkungan yang kemudian didokumentasikan dalam buku : Nata Bata. Berbagai penelitian material batu bata dengan sistem interlock sudah diaplikasikan dalam sejumlah karyanya khususnya untuk perumahan termasuk perumahan untuk warga yang kurang mampu. Salah satu contoh karyanya adalah Reka Villages di Bangkalan Madura Jawa Timur. Sebuah kawasan hunian/perumahan subsidi dan komersial yang mengembangkan konsep perumahan inovatif dengan mengadopsi nilai lokal dan nilai modern kontemporer. Perumahan ini fokus pada penggunaan material batu bata yang disebut Reka Brick, atau bata interlock fabrikasi non-bakar pertama di Indonesia. Ini menjadi bagian dari solusi pembangunan perumahan yang lebih ramah lingkungan dan layak huni namun tetap estetis.

Perumahan Reka Villages di Bangkalan, Madura Jawa Timur. Sumber: Andyrahman architect,2024