Berita

post-thumb

POTENSI KAMPUNG KOTA DI NUSA TENGGARA TIMUR

POTENSI  KAMPUNG KOTA DI NUSA TENGGARA TIMUR

Ar. Paul J. Andjelicus,IAI

 

Prolog

Memperingati ulang tahun ke-65 Program Studi Perencanaan Wilayah dan Kota ITB Bandung tahun  2024, Ikatan Alumni Planologi (API) ITB menerbitkan  sebuah buku dengan judul Masa Depan Perencanaan Indonesia. Buku ini merupakan kumpulan artikel (25 artikel) sumbangan para alumni (29 alumni). Penulis juga ikut berkontribusi dengan artikel : Menata Kampung Kota Untuk Kota Ramah Lingkungan di Nusa Tenggara Timur. Sebagian besar  tulisan tersebut ditampilkan dalam artikel ini yang dinarasikan kembali tanpa menghilangkan konteks tulisan.

 

Menata Kampung Kota NTT

Kehadiran kampung - kampung di berbagai kota  yang ada di Nusa Tenggara Timur (NTT) belum menjadi perhatian serius dan memberikan pengaruh   bagi perkembangan kota. Namun  seperti perkembangan kota-kota di Indonesia pada umumnya, kampung -  kampung yang ada di kota selalu menghadirkan suatu yang unik, memiliki potensi seperti menjadi sumber informasi  pertumbuhan dan perkembangan kota itu sendiri. Kampung – kampung tersebut merupakan kampung lama sebenarnya menyimpan cerita dan memori.  Kampung lama kota memiliki sejarah, ciri khas dan identitasnya yang meliputi suku, agama dan  aktivitas dari  penghuni kampung dari waktu ke waktu  dan menjadi  nama kampung (Suliyati, 2012). Kampung lama dapat disebut embrio perkembangan kota Kampung lama merupakan karena kampung lama merupakan bagian dari permukiman perkotaan yang dibentuk oleh konsep keruangan dalam kurun waktu yang sangat lama dan membentuk struktur ruang kota. Kampung lama merupakan  fenomena  perkotaan  Indonesia  yang telah ada sejak zaman Belanda (Wijanarka, 2007).

Ciri khas kampung kota yang pada umumnya memiliki kepadatannya bangunan yang tinggi,  rumah-rumah saling berdekatan atau berdempetan  dengan material non permanen. Kampung kota umumnya berkembang secara spontan tanpa ada perencanaan sehingga  terjadi degradasi lingkungan permukiman dan menjadi termarjinalkan (Bawole, 2020). Akhirnya, kampung kota berkembang menjadi  permukiman kumuh dan  menjadi salah satu masalah   perkotaan Indonesia. 

Namun ada kekuatan lain yaitu dari aspek  sosial budaya, hubungan antar warga sangat dekat karena berasal dari satu daerah atau suku dan cenderung seagama. Kampung kota yang ada di  NTT lebih bercirikan kampung etnis  karena mayoritas penduduk berasal dari suku yang sama. Kampung kota yang hadir memiliki ciri dan karakteristik sesuai asal kaum pendatang yang selanjutnya menjadi potensi yang dimiliki sebuah kota.

Ciri, karakteristik dan potensi yang dimiliki kampung  kota di NTT yang dapat ditelusuri sebagai berikut

  • Kampung kota menyimpan memori pertumbuhan kota,

    Kampung kota ini awalnya merupakan  kampung lama yang tumbuh dan menandai  kota.   Misalnya, kampung kota           yang ada di Kota Kupang seperti Kampung Cina di Kelurahan Lai Lai Besi Kopan (LLBK) di kawasan Kota Lama dan           Kampung Muslim di  Kelurahan Bonipoi yang menjadi saksi  pertumbuhan permukiman kota Kupang di zaman Belanda.     Kemudian hadirnya kaum pendatang dari berbagai suku dari luar  ke Kupang dan membentuk kantong permukiman             seperti Kampung Flores, Sabu, Rote, Sumba, Alor, Bugis dan lainnya.

  • Kampung kota mempunyai ciri  dan keunikan tersendiri karena tumbuh dari penduduk yang mempunyai kesamaan asal usul daerah, budaya dan agama. Contohnya Kampung muslim di Kelurahan Ende Selatan dan Kampung Arab di Kelurahan Air Mata dan Kampung Solor di Kota Kupang yang asal penduduknya berasal dari Sulawesi.  Kota Kupang menjadi  kota multi etnis karena keanekaragaman suku baik dari NTT maupun luar NTT.
  • Kampung kota sebagai pusat aktivitas ekonomi. Contohnya Kampung Wuring di Maumere (Sikka) dan Kampung Ujung di Labuan Bajo (Manggarai Barat). Juga kehadiran  Kampung Cina (Pecinan) yang ada di hampir setiap kota di NTT.
  • Kampung kota sebagai daya tarik wisata kota. Beberapa kampung kota dapat menjadi daya tarik wisata kota seperti kampung tenun etnis Alor di Kelurahan Oebobo dan Sabu di Kelurahan Manutapen  Kota Kupang dan juga Kampung Adat Praijing yang berada dalam kota Waikabubak, Kabupaten Sumba Barat.

 

Kampung kota di NTT juga tidak terlepas dari masalah menjadi kantong kumuh di kota, sehingga perlu langkah penanganan seperti yang sudah dilakukan melalui Program Kota Kita selama ini. Kampung – kampung yang tumbuh dan berkembang  mempunyai potensi bagi perkembangan kota di NTT sebagai media informasi dan memori perkembangan sebuah kota. Kampung kota juga memberikan ciri dan keunikan dari aspek sosial budaya dan kampung kota dapat berperan sebagai salah satu pusat pertumbuhan ekonomi kota.

Pengembangan kawasan kampung kota di NTT dapat   berkontribusi terhadap upaya mencegah  kawasan permukiman kumuh di  NTT melalui penataan aspek fisik dan non fisik. Aspek fisik melalui perbaikan dan peningkatan  infrastruktur seperti penataan bangunan,  jalan lingkungan, air bersih, dan sanitasi. Peran arsitek yang dapat dilakukan antara lain  mengatasi masalah bangunan yang berdempetan, aspek efisiensi energi bangunan, ruang luar (outdoor) yang terbatas, pola sirkulasi ruang, masalah limbah rumah yang ada. Contohnya pemilihan material bangunan yang baik dengan memanfaatkan material yang sudah ada namun masih layak dipakai.

Sementara  penataan aspek non fisik  dilakukan dengan fokus pada upaya  mengangkat harkat dan martabat masyarakat kampung kota agar mampu hidup layak seperti dukungan pengembangan usaha ekonomi  rakyat  berdasarkan potensi yang ada. Mempersiapkan  kampung kota sebagai tujuan wisata dengan identifikasi potensi dan kekuatan daya tarik wisata yang dapat dihadirkan. Seperti potensi  kuliner, usaha rumah tangga  / kelompok warga yang unik dan bernilai atau kegiatan sosial budaya yang sudah menjadi tradisi yang kemudian ditata menjadi even berkala. Potensi lainnya adalah kampung kota dapat menjadi tempat olahan kreatif sampah kota untuk menghasilkan produk kreatif yang bermanfaat bagi masyarakat.

Epilog

Dari berbagai pengalaman dan cerita sukses penataan kampung kota, mulai dari  Kampung Kali Code Jogjakarta sampai Kampung Warna – Warni Malang dapat  ditemukan faktor kuncinya. Kunci sukses penataan kampung kota adalah perencanaan komprehensif yang  melibatkan partisipasi aktif masyarakat. Kerja kolaborasi ini melibatkan peran para aktor: arsitek, desainer, dan masyarakat mulai dari  penggalian ide gagasan, pengumpulan data, analisis, proses desain, implementasi sampai monitoring evaluasi. Pelaku  yang terlibat dalam proses desain telah  menggali rumusan masalah sebanyak-banyaknya berdasarkan aspirasi masyarakat. Kemudian selama proses berlangsung, kemampuan dan ketrampilan berkomunikasi, ketepatan mengambil keputusan dapat menjadi garansi kepercayaan dari warga kampung yang terlibat aktif.

Sumber foto judul : Istimewa

 

Bahan Bacaan :

Wijanarka. 2007. Semarang Tempo Dulu: Teori Desain Kawasan Bersejarah. Yogyakarta: Penerbit Ombak.

Suliyati, T. (2012). Dinamika Kawasan Permukiman Etnis di Semarang, Retrieved from http://eprints.undip.ac.id/34046/.

Umasangaji, Nurul Kamalah,dkk.(2022).  Transformasi Kota Wisata Kampung Atas Air Kota Balikpapan sebagai Kota Penyangga IKN. Makalah Konfrensi Nasional Sosiologi IX APSSI 2022. Balikpapan

Bawole, Paulus. (2020). Pengembangan kampung kota sebagai salah satu alternatif tujuan wisata minat khusus. Jurnal Jurnal Teknik Arsitektur (Arteks). Volume 5 Issue 1 April 2020. Kupang